//
you're reading...
Kegiatan

Altitude 2900 m (Mendaki Puncak Gunung Gede)

Ini dia,, akhirnya kita sampai juga di puncak Gunung Gede. Tingginya sekitar 2900 meter dari permukaan laut lho. Puas banget deh rasanya, ketika bisa berdiri dan melihat pemandangan yang sangat indah dari ketinggian ini. Subhanallaah..     Tapi, tentu kita gak bisa tiba-tiba sampai di puncak ‘kan? Ada banyak hal yang kita lalui dan perjuangan yang seru untuk mencapainya. Ayo simak ulasannya:

Flashback

Beberapa bulan yang lalu, ketika masjid Arrahmah Smansa Bogor sedang direnovasi, aula Smansa yang letaknya di lantai 4 menjadi mushola sementara. Karenanya, siswa-siswi yang ingin melaksanakan solat Dzuhur, harus naik tangga sampai ke lantai 4. Perjuangan itu paling kerasa oleh siswa-siswi kelas 12 yang kelas-kelasnya terletak di lantai 1. Jadi pegel-pegel deh kaki. Tapi, ada satu hal yang menarik,, Dari salah satu sudut aula, kita bisa melihat pemandangan kota bogor dan puncak gunung salak. Nah, jadi terpikirkan deh oleh saya dan Bram untuk naik gunung setelah SNMPTN.

Jadi Naik Gunung, Nggak?

Beberapa saat setelah SNMPTN, di NF Paledang (tempat les kami) rencana untuk naik gunung kembali mencuat ke permukaan. “Jadi naik gunung, nggak?” Wah, si Bram ternyata masih ingat sama rencana kita dulu dan dia kelihatan semangat banget. Saya akhirnya ikut semangat,, dan game on!

Cari Info

Wah, ternyata saya baru tau kalo puncak Gunung Salak itu tidak begitu mudah didaki apalagi oleh pemula seperti saya dan Bram. Setelah cari-cari info dari teman-teman dan internet, kami tau kalo ada gunung yang lebih memungkinkan bagi kita untuk didaki,, Gunung Gede. Mulai dari situ, kami fokus untuk cari info lebih detail mengenai Gunung Gede. Gunung Gede terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Lokasinya di perbatasan Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Gunung Gede adalah gunung vulkanik semi-aktif dan mempunyai kawah. Puncaknya kira” 2900 m DPL. Sementara itu, Gunung Pangrango terletak bersisian dengan Gunung Gede (di sebelah Barat Lautnya Gunung Gede). Gunung Pangrango berbentuk kerucut dan puncaknya lebih tinggi, sekitar 3000 m DPL. Kalau mau lebih jelas, lihat aja peta interaktif di website resmi Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP).

Setelah berkonsultasi dengan alumni Smansa, a Ryan, a TB, a Wahyu, dkk,  menjelajah internet dari website resmi sampai blog orang lain yang berpengalaman,  dan membaca buku di perpustakaan nasional,, akhirnya rencana kami mulai matang.

  • Destinasi: Gunung Gede
  • Tanggal: 11-12 Juni 2011 (Hari Sabtu-Minggu, sekitar 180 pengunjung juga mendaki di hari yang sama)
  • Jalur Pendakian: Jalur Cibodas (Jalur pendakian paling landai dibandingkan jalur Salabintana maupun Gn Putri)

    Peta Jalur Pendakian Kami

Ajak-ajak

Naik ke puncak gunung tentu gak bisa sendirian, butuh tim supaya bisa saling menolong. Yap, akhirnya saya dan Bram mulai ngajak-ngajak teman” lainnya supaya ikutan. Yang jadi ikut: saya, Bram, Fadhel Mubarak, Zego, dan Mas Ade.

Apa aja nih yang perlu disiapkan?

H-3, saya menuju Kantor Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango yang terletak di Cibodas untuk mendaftar. Pendaftaran bisa dilakukan secara online di website resminya dan pembayaran tiket masuk bisa dengan transfer (7rb rupiah / orang). Di kantor itu, kita diminta untuk mengumpulkan fotokopi KTP atau tanda pengenal dari setiap anggota. Bila dokumen sudah lengkap, kita mendapatkan SIMAKSI (surat izin masuk kawasan TNGGP), tiket masuk, kartu asuransi kecelakaan, form barang yang menghasilkan sampah (karena kita gak boleh buang sampah sembarangan di kawasan taman nasional ini), dan form temuan satwa. Kesemua dokumen dan KTP asli perlu dibawa pada hari H.

Sementara itu, teman-teman yang lain juga mempersiapkan banyak hal. Karena cuaca sangat dingin dan jalan terjal di puncak Gunung Gede, barang” yang kami bawa diantaranya, sweater, jaket, jas hujan, celana panjang, kupluk, sarung tangan, dan sepatu. Kami juga menyewa tenda dan sleeping bag. Alat” P3K juga perlu dibawa. Makanan, kompor portable, dan beberapa botol air juga disiapkan. Kami juga membawa kompas (untuk mencari arah kiblat ketika hendak mendirikan solat) dan senter. Semuanya kami kemas dalam 5 ransel dan 1 tas jinjing. Perlengkapan minimum yang harus disiapkan juga bisa dilihat di website TNGGP.

Ayo Mulai Mendaki !

Zego, Mas Ade, Bram, Fadel, dan saya. Kami siap berangkat!

Hari H, 11 Juni 2011, kami berlima berkumpul di depan NF Paledang untuk mengepak barang”. Kami berangkat dari Bogor pada pukul 6 pagi dengan diantar mobilnya Zego. Karena jalan raya puncak lancar, kami tiba di pintu masuk jalur cibodas dalam waktu satu setengah jam.

Jam 8, kita mulai mendaki di jalur pendakian Cibodas yang landai dan berbatu. Di pos pemeriksaan, SIMAKSI kami diperiksa petugas dan kami diingatkan untuk tidak membawa benda tajam, odol, sabun, sampo, dan sebagainya. Kami juga diingatkan untuk membawa kembali sampah yang kami hasilkan dengan trashbag.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan semangat dan sambil menyanyikan yel-yel. Sesekali, kami berpapasan dengan kelompok pendaki lainnya. Ketika bertemu, kami saling menyapa. Kita juga bisa bertanya pada mereka. Kami berjalan berdekatan dengan kecepatan sedang dan sesekali berhenti untuk istirahat dan minum.

Sip, akhirnya kami sampai di pos Telaga Biru. Airnya sangat jernih dan warnanya biru.

Ini dia,, Telaga Biru!

Tak jauh dari sana, kami sampai di Rawa Gayonggong, atau dikenal juga dengan Jembatan Kayu. Sebab, sepanjang beberapa ratus meter, kami berjalan di atas jembatan kayu (setinggi 1 meter di atas rawa). Kami harus berhati-hati karena banyak kayu yang telah rusak. Solusinya adalah berjalan di bagian tengah, karena di situlah pondasinya.

Rawa Gayonggong

Beberapa saat kemudian, kami sampai di pertigaan. Kalau ke kiri, kita bisa melanjutkan pendakian. Kalau ke kanan, kita menuju Air Terjun Cibeureum. Kami menyempatkan waktu untuk mengunjungi air terjun Cibeureum. Kami beristirahat sejenak di sana dan mengambil airnya untuk diminum.

Air Terjun Cibeureum,, Ada Pelanginya Lho. Subhanallaah!

Kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Dari pertigaan, jalur pendakian mulai menanjak, sehingga kami jadi lebih sering beristirahat. Pos selanjutnya terasa begitu jauh. Kami membuka bekal kami untuk makan siang di tengah perjalanan. Sesekali, kami melihat fauna-fauna yang hidup di sini, seperti Owa Jawa dan burung kecil.

Perjalanan terasa lama dan melelahkan, hingga kami sampai di pos Air Panas. Kami harus melaluinya dengan berjalan di atas batu-batu dan berpegangan ke tali pengaman yang terpasang di sana. Uapnya membuat tubuh menjadi hangat, tapi, kalau airnya terkena kaki rasanya cukup panas. Sehingga lebih nyaman bila memakai sepatu.

Zego dan Bram,, berjalan melewati Air Panas

Beberapa saat setelah Air Panas, terdapat Pos Kandang Batu, sebagian pendaki mendirikan tenda di tempat ini.

Pos Kandang Badak

Akhirnya, setelah perjalanan selama 7 jam, kami sampai di pos Kandang Badak (2400 m DPL). Sebuah lokasi yang cukup luas namun rindang dengan pepohonannya dan digunakan oleh mayoritas pendaki untuk mendirikan tenda. Kami pun mulai membangun tenda. Yup, kami bermalam di sana!

Mendirikan Tenda di Pos Kandang Badak

Hey, malam ini ternyata begitu gelap dan dingin. Hujan mengguyur selama beberapa jam dan membuat tenda kami basah dan lembab. Sulit untuk tidur nyenyak. Kami pun men cari-cari cara untuk menghangatkan diri. Wah, rasanya seperti berada di dalam kulkas. Jadi rindu rumah dan ingin cepat pulang. Kami sempat terpikir untuk berhenti di sini.

Namun, sekitar jam setengah 5 pada dini hari, semangat terkumpul kembali ketika ada seorang bapak dari salah satu rombongan yang berteriak “puncak! puncak! ayo ngumpul dan berangkat ke puncak!” Kami pun langsung terbangun dan bersiap-siap. Kami mengikuti rombongan yang cukup ramai untuk menuju ke puncak. Jalannya begitu gelap, sehingga kami dan pendaki lainnya berjalan berbaris dengan membawa senter. Tak lama, ada pertigaan. Ke kanan untuk menuju Puncak Gunung Pangrango, ke kiri untuk menuju Puncak Gunung Gede. Setelah itu, kami sampai di Tanjakan Setan. Cukup curam sehingga pendaki yang ingin naik perlu berpegangan ke tali pengaman yang telah dipasang di sana. Di sinilah sarung tangan terasa manfaatnya.

Mas Ade dan saya,, mendaki di Tanjakan Setan

Setelah melalui Tanjakan Setan, kami berhenti dulu untuk solat Subuh.

Selanjutnya, perjalanan kami lanjutkan. Setelah perjalanan selama kurang lebih 2 jam, akhirnya……

N - I - H - U - Y ,, Nihuuuy!! Akhirnya kita sampai di puncak Gunung Gede

Alhamdulillah,, Akhirnya kami sampai juga di puncak Gunung Gede!! 2900 meter dari permukaan laut! Subhanallaah,, pemandangan begitu indah dari sini. Sejajar dengan awan. Horizon terlihat dengan jelas dari sini. Matahari pagi terang menyinari, sehingga bayangan Gunung Gede terlihat menutupi hutan di sebelah baratnya. Allahu akbar..

Di seberang Puncak Gunung Gede, ada padang Edelweis, yaitu Alun-alun Suryakencana. Namun, karena waktu yang kurang memungkinkan untuk menuju ke sana. Kami segera kembali ke Kandang Badak, setelah sarapan dan berfoto.

Setelah sampai di Kandang Badak, kami merapihkan tenda kami. Berkemas dan siap untuk pulang. Kami menutup kegiatan ini dengan doa dan hamdalah. Banyak pelajaran, pengalaman, dan hikmah yang kami dapat di hari ini. Tentang kemandirian, tentang kerjasama, dan tentang rasa syukur, juga pengalaman yang tak ternilai.

Selanjutnya kami menuruni jalur yang sama dengan yang kami lewati kemarin, jalur Cibodas. Waktu tempuh yang kami perlukan untuk turun, hanya sekitar 4 setengah jam dari Pos Kandang Badak sampai ke Pintu Masuk Jalur Cibodas.

-End of story-      semoga bermanfaat!

Discussion

8 thoughts on “Altitude 2900 m (Mendaki Puncak Gunung Gede)

  1. Horeeeeeeee, naiiik leveeeeel !

    Posted by Zego | June 14, 2011, 21:39
  2. wah amir seru juga ceritanya…. hehehehehehe mir mas ade ccopy ke nf paledang ya

    Posted by ade subasar | June 23, 2011, 14:51
  3. seru^^

    Posted by hening | June 30, 2011, 09:12
  4. hmm ajip blog nya sampai ketemu lagi mir di naik gunung sesi2 hehe

    Posted by buramu | August 25, 2011, 15:11
  5. Subhanallah,

    Telaga Birunya seems so beautiful sekaliiii
    wish i could go there someday…
    Aamiin..😀

    Posted by sri wijayanti | January 6, 2012, 11:30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: